Selasa, 23 Maret 2010

Kejutan di Ujung Senja

Hari itu sangat panas. Lalu lalang orang membuat suasana makin panas. Setiap orang berlomba mencari rezeki. Begitulah kota. Hidup terasa keras. Aku tercenung sesaat. Ketika aku melihat sesosok anak dekil yang menenteng dagangannya dengan tergesa. Dia sedikit berlari karena ada sebuah bus yang berhenti di pinggir halte. Kulihat anak itu berlari sambil menyisihkan beberapa orang dewasa yang sebagian tukang becak bergerombol di depan pintu bus luar kota itu. Dengan langkah kecilnya dia, sedikit kesulitan untuk berlomba memasuki bus. Akan tetapi, sebentar kemudian bus itu sudah berjalan lagi tanpa sempat membawa si anak dekil itu.

Anak laki-laki itu sebenarnya masih anak-anak. Itu terlihat dari wajahnya yang masih imut kalau menurut anak zaman sekarang. Sekitar dua belas tahun. Hidup yang keras sepertinya membuat wajahnya menjadi tampak lebih tua. Sebentar kemudian terlihat olehku sebuah bus luar kota lagi yang mendekati halte. Anak itu kembali bergegas mengejarnya. Rupanya nasib baik kembali tidak berpihak padanya. Ternyata bus itu hanya menurunkan seorang penumpang saja, dan cepat melaju lagi. Orang-orang - yang notabene para tukang becak dan tukang ojek- yang tadi berlomba berlari, berhenti dengan kecewa. Dengan langkah gontai, dia berjalan kembali ke halte tempatku duduk.

Aku menatap lagi wajahnya. Kali ini agak dekat. Aku kembali tercekat. Ada sesuatu pada raut wajahnya yang entah mengapa aku seperti pernah mengenalnya. Tetapi makin kucoba, makin susah aku mengingatnya. Akhirnya aku menyerah. Dia rupanya tahu kalau aku sedari tadi mengamatinya. Dia mendekatiku seraya menawariku minuman botol. “ Mbak, minumannya! Hanya dua ribu kok. Masih dingin lho!” katanya sambil menyodorkan botol. “Ya, satu saja.”kataku. Kupikir hitung-hitung sambil ngilangin haus. “Mbak mau pergi ke mana?” tanya anak itu sambil duduk di sebelahku dan memperhatikanku minum. “Jogja!” sahutku. Aku menoleh kearahnya. Deg. Aku jadi teringat pada raut seseorang lagi. Tapi siapa? “Namamu siapa?” tanyaku sambil menatap ke arah matanya lagi. Tampaknya ia tidak cocok untuk bekerja sebagai anak jalanan seperti itu. Terlalu tampan malah. Cocoknya ia jadi anak sekolah seusia siswaku di sekolah. “ Anto.” jawabnya sambil menoleh ke arah lain. Tampaknya ia mulai tidak nyaman kuperhatikan terus. “ Umurmu berapa?” tanyaku lagi. “ Dua belas!” kali ini ia menjawab sambil menyelonjorkan kakinya. “Lha rumah kamu di mana?” kukejar lagi ia dengan pertanyaan. Ia terdiam cukup lama. Sampai akhirnya ia menjawab, “Aku menumpang di rumah orang yang baik kepadaku.” katanya sambil tertunduk. Ia memainkan kerikil dengan ujung kakinya. “Ooh begitu ya..” kataku. “Kalau aku berasal dari Blora.” kataku sambil melihatnya. Tanpa kuduga ia terkejut. Kulihat seperti ada semburat sinar keluar dari matanya. Tapi itu hanya sebentar, kemudian tampak murung seperti tadi. Aku curiga kalau ada hubungan antara anak itu dengan kota kelahiranku tercinta. “Aku juga dulu pernah tinggal di Blora.” katanya pelan. Reflek aku melihatnya lekat-lekat. Surprise juga mendengarnya. “ Kapan?” tanyaku lagi. “Dulu Mbak, waktu aku kecil.” jawabnya. “Tapi sudah lama aku tidak pernah ke sana.” lanjutnya lagi. Karena makin penasaran, aku bertanya lagi, “Kenapa?”. “ Nggak apa-apa, kok.” jawabnya sambil bangkit dan berdiri kemudian akan berjalan. “Eh, uangnya!” kataku. “ O, iya sampai lupa!” katanya sambil menerima uangku. “ Namaku Adin. Besok lain waktu ngobrol lagi ya!” sahutku sambil tersenyum. “ Ya!” kali ini ia berlari kecil, karena ada bus yang berhenti lagi.

Sebetulnya aku sudah mulai lupa percakapanku dengannya waktu itu. Tapi ketika aku ada tugas lagi, yang mengharuskanku duduk di halte itu, aku jadi teringat padanya. Seperti dulu, ia sudah berlomba dengan para tukang becak dan tukang ojek serta pengamen dalam mencari rezeki. Tapi begitu melihatku, tampaknya ia teringat pada percakapan itu. “Hai, ke Jogja lagi?” tanyanya sambil mendekatiku. “ Ya.” jawabku. Ia duduk di sebelahku. Ada serombongan siswa SMP yang lewat di depan kami. Rupanya sudah jam pulang sekolah.“ Mbak, enak ya jadi anak sekolah.” Katanya sambil melihatku. Aku tertegun. Tak kusangka ia berkata seperti itu. “ Iya, karena kita jadi orang yang berpendidikan. Kamu pernah sekolah?” tanyaku hati-hati. “ Pernah, tapi hanya sampai kelas 5 SD.” sahutnya sambil memilin-milin tali tempat dagangannya. “Kenapa berhenti?” tanyaku. “Karena aku bodoh Mbak. Aku minta dibelikan PS nggak dikabulkan, jadinya aku kabur ke sini.” katanya enteng. Aku sempat tercenung. Apa jadinya bangsa ini kalau generasi mudanya saja berpikiran picik begini. “Tapi itu bukan satu-satunya sebab kenapa aku kabur. Karena orang tuaku hanya memikirkan urusannya sendiri. Mereka sibuk bertengkar tanpa pernah memikirkan aku. “ kubiarkan dia terus berbicara mencurahkan isi hatinya. “ Mungkin tanpa aku mereka akan bebas bertengkar lagi!” katanya ketus. “ Mungkin bukan begitu cara menyelesaikan persoalan, Dik.” kataku hati-hati. “ Bisa saja orang tuamu kebingungan mencarimu. Aku juga pernah mengalaminya.”

Aku jadi teringat pada Mbak ajeng, kakakku di Blora yang kehilangan anak semata wayangnya. Kok ada kemiripan kisahnya dengan anak ini. Aku jadi menduga-duga, jangan-jangan anak ini….Bisa saja dia adalah keponakanku, anak Mbak Ajeng. Kakak semata wayangku. Memang kami bersaudara, tapi hanya saudara tiri. Setelah ayah meninggal, aku ikut ibuku dan mengajar di sebuah SMP di Semarang, sementara kakakku tetap di Blora. Karena kesibukanku pula, aku jarang bertemu kakakku itu. Paling saling mengirim sms. Beberapa tahun kemarin, kakakku pernah bercerita kalau anaknya kabur dari rumah. Tak henti-hentinya ia mencari anaknya, tapi belum ketemu juga. Padahal sudah berbagai cara dicoba. Bahkan sampai mengerahkan jasa orang tua segala. “Kakak dulu juga pernah minggat ya?” tanyanya mengagetkanku. “Eh, bukan begitu. Maksudku, aku pernah mengalami masalah keluarga juga.” jelasku. “Ooh, begitu.” katanya. “ Jadi, semua orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dengan orang tuanya. Asal kita bisa bicara baik-baik, pasti semua akan terselesaikan dengan baik. Iya, kan?” tanyaku. “Iya, sih. Tapi misalnya aku pulang, belum tentu orang tuaku akan berhenti bertengkar.” Tanyanya sambil menatapku. Aku jadi kasihan melihatnya. Kubayangkan betapa bahagianya orang tuanya kalau anak ini mau pulang ke rumah. “ Eh, bisa saja lho! Kalau kamu pulang, ayah ibu kamu akan menyadari betapa berartinya keluarga. Begitu!” bujukku lagi. “Kamu mau pulang, kan? Kasihan orang tuamu pasti menunggumu terus. Bayangkan betapa bahagianya mereka.” Ia terdiam. Rupanya bujukanku mulai berhasil. Entah mengapa aku bersemangat untuk membujuknya pulang. Akhirnya ia berkata, “Ya, akan kupikirkan dulu saranmu.” Aku tersenyum dan berkata, “ Kutunggu kabarmu ya. Ntar aku diberitahu ya.” Anak itu berjalan sambil berkata,“Ya, beres.” Aku bangkit karena bus yang kutunggu sudah datang.

Seminggu setelah kejadian itu, aku kembali menunggu bus di halte itu. Sesuai jadwal kuliahku di Jogja. Tetapi kali ini aku tidak menemukan wajah tampan tapi dekil itu. Entah di mana dia. Mungkin ia sakit, atau jangan-jangan ia mengalami musibah dan… ah, aku tidak mau memikirkannya. Aku takut kalau ia sampai mengalami hal buruk. Beberapa waktu aku menunggunya untuk sekedar ngobrol. Tapi sampai bus datang, ia tidak muncul juga. Akhirnya aku naik bus sambil berdoa semoga tidak ada kejadian buruk menimpanya.

Waktu cepat berlalu. Aku sudah mulai melupakan anak jalanan itu. Tapi pada suatu hari sebuah kejadian kualami. Hari itu aku mendapat kejutan. Sepulang sekolah, aku mendapat sms dari kakakku di Blora. Tumben nih. Ada apa gerangan sampai ia memintaku untuk pulang. Aku penasaran sampai aku memutuskan untuk segera pulang ke Blora. Untung besok sudah mau puasa, jadi sekolah libur tiga hari.

Besoknya aku benar-benar pulang. Lama juga aku tidak pulang ke Blora. Hampir 6 tahun. Blora sudah banyak berubah. Asyik juga melihat pemandangan sawah di kiri kanan bus. Yang tidak berubah adalah cuaca yang tidak bersahabat. Panas seperti dulu. Hari sudah hampir Maghrib, ketika aku sampai di Blora. Begitu sampai di ujung gang, aku langsung melihat ada serombongan orang yang sepertinya baru kondangan keluar dari rumah kami. Aku bingung, ada apa gerangan ini. Semakin penasaran aku. Kuminta tukang becak untuk lebih cepat jalan becaknya. Sesampainya di pintu pagar, aku tidak sabar lagi. Cepat-cepat kubayar becak dan langsung berjalan masuk rumah.

Di depan pintu, ada sesosok anak yang wajahnya tak asing lagi bagiku. Ya, dia adalah anak dekil tapi tampan yang biasa kutemui di halte terminal kalau aku mau kuliah di Jogja. Kali ini ia tampak jauh lebih tampan dengan baju yang bersih. Sosok itu tersenyum sambil berteriak, “Mbak, aku pulang juga!” Dari balik kamar, muncul kakakku sambil berkata,“Ini, lho! Jagoanku sudah pulang ke kandang. Ini katanya berkat kakak yang baik hati di halte. Rupanya kamu yang berhasi membawa anakku pulang kembali. Terima kasih, ya.” Aku yang tadinya masih terlongong bingung mulai menyadari situasi. “ Oh, pantas. Setiap ketemu aku selalu merasa pernah mengenalmu. Rupanya keponakanku sendiri to! Dulu kan kamu masih kecil, jadi aku lupa.” kataku sambil memeluk Anto. “Kamu sih, lama nggak pernah pulang, jadi sama keponakan sendiri lupa.”, kata Mbak Ajeng. “Iya deh. Maaf. Anto, mulai sekarang jangan pake minggat-minggatan segala ya. Kamu tahu ibumu sampai stress berat.” kataku. “Iya, aku sekarang kapok. Ternyata lebih enak tinggal bersama ibu dan ayah. Dan aku akan rajin belajar agar bisa seperti mbak Adin.” kata Anto. “Tapi Ibu dan ayah juga harus janji akan memperhatikanku lho!” kata anto lagi. “ Iya, iya. Sampai lupa nggak masuk rumah.” kata kakakku itu. “ Ini tadi ada sedikit syukuran atas kembalinya Anto. Ayahnya juga lagi ke rumah Simbah Anto, nganterin berkat kondangan, sebentar lagi juga pulang, “ jelasnya lagi. “Ooh begitu, ya.” kataku. “Kalau begitu, kamu istirahat dulu. Anto, taruh tas Mbak Adin ke kamar!” kata Mbak Ajeng lagi sambil masuk ke dapur. Kemudian Anto membawa tasku ke dalam kamar dan kemudian kembali ke dapur mengikuti ibunya.

Aku duduk di ranjang sambil berpikir. Mungkin memang Anto harus bertemu aku dulu, baru Mbak ajeng bertemu dengan anaknya. Dan aku juga harus sering-sering pulang ke Blora agar tidak lupa sama keluargaku tercinta. Entahlah… Yang pasti aku bahagia sekali bisa mempertemukan Anto dengan orang tuanya, yang tak lain adalah kakakku sendiri. Terima kasih Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar